Search This Blog

Tips Menjadi Pribadi Yang Dapat Dipercaya


Membangun trust sama halnya dengan membangun reputasi, membutuhkan usaha, melibatkan lebih dari satu pihak dan waktu yang tidak sedikit. Namun sama halnya dengan reputasi pula, menghancurkannya hanya butuh satu orang dan berlangsung dalam hitungan detik. Lagi pula orang yang layak dipercaya (trustworthty) juga merupakan salah-satu reputasi.

Bercermin pada pengalaman diri sendiri, entah sudah berapa banyak relasi berdasarkan trust atau saling percaya pernah terbangun dalam perjalanan hidup umumnya dan karier pada khususnya. Tapi yang benar-benat lasting for ever bisa dihitung jari. Mungkin kita tidak bermaksud menghancurkannya, tapi kelalaian merawatnya dengan baik saja sudah cukup.
Beberapa waktu yang lalu seorang klien menceritakan kepada saya rencananya untuk quit dari pekerjaannya. Orang ini sudah menjadi kepercayaan bosnya dan dia beruntung melakukan jenis pekerjaan yang disukainya. "Ok. Setelah keluar kamu mau usaha sendiri atau berencana mencari pekerjaan lain?" Tanya saya.
"Rencananya usaha sendiri." Jawabnya.
"Kalau gitu, sebaiknya kamu beri waktu untuk dirimu sendiri dan bosmu dua tahun lagi, jangan terburu-buru. Jangan sampai kamu keluar dan hubunganmu dengan bosmu jadi rusak. Sebab jika kamu keluar sekarang, bosmu akan pontang panting mencari penggantimu. Alangkah kalau kamu menyiapkan dulu anak buah yang dapat dipromosikan sebagai penggantimu. Kamu coaching dan mentoring dia sebaik-baiknya. Lalu kamu keluar baik-baik dan usahakan mengajak bosmu bermitra."
Anak muda itu mendengarkan nasihat saya dan saya membantunya melalui sesi-sesi coaching untuk lebih menyenangi lagi pekerjaannya dan meningkatkan kecakapan berkomunikasi serta menciptakan suasana kerja yang kondusif di divisinya. Saat ini anak muda ini sudah memiliki usaha sendiri dan tetap berhubungan baik dengan mantan bosnya. "Berkat nasihat Bu Erni dulu, saya sekarang masih sering menerima order dari si bos."
Saya merasa sangat bahagia berhasil mencegahnya menghancurkan jembatan indah yang dibangun dengan susah-payah. Di saat yang sama saya teringat anak muda lain yang karena tidak dapat mengendalikan ledakan kemarahan atau dengan alasan tertentu datang menggebrak meja bosnya sambil berteriak: "Pilih X atau aku? Kalau pilih X, aku keluar!" Karena alasan yang sangat masuk akal, si bos memilih X dan si anak muda tadi keluar sambil menghancurkan jembatan di belakangnya. Berbulan-bulan sesudahnya si anak muda ini masih memendam dendam terhadap si X dan juga merasa sakit hati terhadap mantan bosnya. Menurut pendapatnya, ia telah ikut merintis perusahaan dan membantu si bos dengan penuh dedikasi, tapi begitu perusahaan sudah besar malah dia tidak dinomorsatukan.
Seandainya pendapat si anak muda tadi benar, ia tetap tidak perlu bereaksi seperti itu. Tapi mengingat ego, tidak akan ada bos yang mau digertak demikian. Kini jembatan trust yang dibangun bertahun-tahun telah dihancurkan. Sungguh sayang. Pada saat ini mungkin belum terasa kerugian apapun secara langsung, namun sesungguhnya pepatah lama yang mengatakan: “Seribu orang sahabat masih kurang, seorang musuh saja sudah cukup.”
Bagaimana membangun trust di tempat kerja dan mendukung kesuksesan karier Anda? Para ahli menyarankan beberapa point of view yang sebenarnya sudah sangat umum diketahui namun jika tidak berhati-hati dapat menjerumuskan.
Jujur dan dapat dipercaya. Pepatah mengatakan: “Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di manapun”, dan itu sungguh tepat. Selalu berbicara jujur apa yang Anda ketahui dan apa yang tidak Anda ketahui, ingat kebohongan sekecil apapun dapat menghancurkan kepercayaan orang lain terhadap Anda.
Orang yang dapat dipercaya tahu informasi apa yang boleh disampaikan dan informasi apa yang harus disimpan untuk pengetahuannya sendiri serta tahu kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan apa. Jika seseorang menceritakan rahasia pribadinya, orang yang dapat dipercaya tidak mungkin memanfaatkan kepercayaan tersebut.
Integritas. Jangan mudah membuat komitmen jika Anda tidak yakin dapat memenuhinya. Jika merasa ragu-ragu lebih baik meminta waktu untuk mempertimbangkannya. Integritas antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan juga harus selalu dipelihara. Orang yang suka membual atau omong gede mungkin sudah melupakan apa yang pernah diucapkannya, tetapi orang lain yang mendengarkan akan mencocokkannya dengan perbuatannya.
Bersikap serius. Bersikap serius atau bersikap profesional bukan berarti judes, jadi perhatikan kapan waktu yang tepat untuk bercanda dan dengan siapa Anda bercanda.
Memegang komitmen dan selesaikan apa yang sudah dimulai. Jika Anda sudah menyatakan setuju untuk melaksanakan suatu tugas entah di kantor, atau dalam komunitas, jangan menunggu hingga diingatkan baru melaksanakannya. Berikan selalu lebih daripada yang diharapkan, terutama dari sisi kualitas. Selesaikan apa yang sudah dimulai kecuali Anda memiliki alasan yang masuk akal untuk berhenti di tengah jalan.
Kendalikan emosi dan jangan membuat keputusan apapun ketika sedang marah. Membuat keputusan ketika sedang marah akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Belajarlah mengendalikan emosi, jika belum mampu melakukannya pergilah ke kamar mandi.

Trust Dalam Keluarga
Agak aneh bilamana anggota dari sebuah keluarga tidak dapat saling percaya, tapi memang sering terjadi dalam realita. Ketika dua orang mula-mula saling tertarik dan memutuskan berpacaran, mereka berusaha berperan sebagai pribadi idealnya, akibatnya mereka bersikap kurang tulus. Setelah menikah, pasangan tadi mulai menanggalkan kedok-kedoknya, termasuk yang dikenakannya tanpa menyadarinya. Sejalan berlalunya waktu suami istri mulai saling curiga dan merasa kecele juga. Atau sebaliknya salah-satu pihak memilih bersikap apatis, artinya ia tidak melakukan tindakan provokatif, tidak pernah mengkonfrontasi pasangannya soal kecurigaannya, namun juga sepenuhnya sadar kalau ia tidak memercayainya.
Remaja juga sulit mendapatkan kepercayaan orangtuanya. Pertama, orangtua masih berjuang menghadapi kenyataan bahwa anaknya bukan lagi bayi yang membutuhkan mereka 24/7. Kedua, orangtua merasa terlalu mengkhawatirkan anak-anaknya melakukan hal-hal yang membahayakan atau kekonyolan lain yang dapat menimbulkan masalah. Bahkan ada sebagian besar orangtua yang terus bersikap demikian hingga ketika si anak siap untuk berumahtangga tetap tidak dipercaya bila anaknya dapat menemukan pasangan hidup yang cocok.
Bagaimana anggota keluarga dapat saling percaya dan memelihara trust di antara mereka? Satu-satunya jalan adalah melalui komunikasi dan keterbukaan. Nah, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, namun para ahli menganjurkan langkah-langkah berikut ini:
Berpikir sebelum berbicara. Ambil waktu untuk merenung sebelum berbicara, lebih-lebih berbicara tentang hal-hal yang sensitif dan dalam keadaan marah atau tegang. Pastikan pula pilihan kata-kata, bahasa tubuh dan nada suara mencerminkan pesan yang ingin tersampaikan.
Katakan yang sesungguhnya. Mungkin Anda berusaha terlalu keras agar tidak menyakiti hati orang yang Anda kasihi, tapi ketidakjujuran menghancurkan kepercayaan (trust). Bagaimanapun kebenaran harus disampaikan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ingatlah selalu, bahwa keterusterangan yang brutal menyakiti hati, tetapi kelemahlembutan membangun keintiman.
Hargai Pendapat orang lain. Jangan terjebak dalam perdebatan demi mempertahankan pendapat sendiri sebagai yang paling benar tanpa memberikan waktu kepada orang lain untuk menjelaskan sudut pandangnya.
Nyatakan secara jelas apa yang Anda inginkan atau butuhkan. Sering kali kita mendengar orang menggerutu: “Harusnya dia tahu apa yang aku inginkan tanpa perlu aku mengatakannya.” Manusia hanyalah pembaca pikiran yang sangat parah dan pelupa. Jadi jangan malas mengatakan lagi dan lagi apa yang Anda inginkan dengan santun.
Kenali gaya komunikasimu sendiri. Ada orang yang berbicara terlalu keras atau terlalu bersemangat sehingga terkesan ia sedang marah-marah atau berbicara terlalu pelan sehingga tidak dipahami. Itu semua adalah gaya komunikasi yang dapat diubah. Kita juga dapat belajar untuk menyamakan intonasi, volume suara dan bahasa tubuh dengan siapa kita sedang berkomunikasi yang akan membawa impak positif.
Memberikan kesempatan orang lain. Biasakan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara terlebih dahulu. Jangan menginterupsi pembicaraan orang lain, tapi dengarkan secara aktif dan penuh perhatian. Jangan mendengarkan sambil merancang bantahan atau sanggahan yang akan Anda berikan.
Jangan berasumsi. Jangan berasumsi tentang perasaan, pikiran atau mengambil kesimpulan tergesa-gesa berdasarkan perilakunya. Sah-sah saja mengkonfirmasi apa yang Anda pikirkan atau mengajukan pertanyaan tentang asumsi Anda, tapi jangan sekali-sekali bersikap seolah-olah asumsi Anda pasti benar dan melancarkan tuduhan.
Jadilah pendengar aktif. Cara mendengarkan yang benar atau active listening adalah keterampilan penting yang wajid dilatih. Walaupun banyak orang gagal mencapai kesempurnaan, caranya sebenarnya sangat sederhana. Pertama, dengarkan penuh perhatian ketika seseorang sedang berbicara kepada Anda, usahakan melakukan kontak mata dan berhenti dari kegiatan lain yang sedang dilakukan saat itu. Kedua: fokus pada apa yang terucapkan (eksplisit) dan yang implisit (perasaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata). Ketiga: Klarifikasi dengan bertanya: “Apa yang aku tangkap dari perkataanmu adalah bahwa…” dan ulangi kalimat-kalimat yang telah Anda dengar.

Terbuka dengan apa yang Anda rasakan. Di antara semua nasihat para ahli, komunikasi yang terpenting dalam keluarga adalah menyatakan perasaan-perasaan dan bukan mendramatisirkan perasaan-perasaan. Jika Anda marah, bicarakan apa yang menyebabkan Anda merasa marah, bukannya menunjukkan dengan perilaku cemberut, membanting pintu atau membungkam diri. Jangan pula menekan perasaan dan berharap semuanya cepat akan berlalu dan kembali normal. Jika Anda adalah orangtua, ajaklah keluarga Anda untuk selalu terbuka satu sama lain. Jika merasa marah karena suatu hal, validasi emosi tersebut dan cari solusi bersama-sama agar penyebab atau masalah yang menimbulkan perasaan tersebut tidak terulang kembali di kemudian hari.

No comments:

Post a Comment