Labels

Search This Blog

Showing posts with label TRAVELING. Show all posts
Showing posts with label TRAVELING. Show all posts

Melabuh Di Surabaya

Sebelum "pindah" ke Surabaya, saya telah beberapa kali mengunjungi kota yang terkenal disebut kota Pahlawan ini. Lebih sering mendarat dengan menumpang pesawat terbang dan satu atau dua kali tiba dengan menumpang kereta api.
Bila kita tiba dengan pesawat terbang, sebenarnya kita mendarat di Kabupaten Sidoarjo, seperti halnya kota-kota besar lain, Kota Surabaya tidak memiliki bandar udara. Fakta ini akhirnya turut memberikan makna menarik  pada cara tiba di Surabaya melalui laut yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Walaupun tidak menggunakan kapal besar melainkan hanya dengan menumpang feri dari Pulau Madura, saya berkesempatan mendapatkan kesan berbeda tentang kota yang terkenal terik ini. Berikut ini beberapa foto yang berhasil menangkap sisi lain Kota Surabaya.


Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya adalah tujuan kami untuk melabuh di siang yang panas terik ini. Tetapi sebenarnya kami tidak akan melabuh di sini, tempat merapat pantai nanti tepatnya adalah Pelabuhan Ujung.

From Bangkok to Siem Reap



Before this trip, I had done an intensive search for information on the Internet. Quite a lot of information traveling across the Thai-Cambodian border are available, but were not updated. Our destination city in Cambodia is Siem Reap where the renowned Angkor Wat is located. In general, backpackers will enter Siem Reap through Vietnam, or Phnom Penh. Tick pocket tourists (lots of money in their pockets), would favor flying in through Siem Reap international airport. 


At last I have managed to find the information from  http://www.travelforum.org/thailand/7891-new-direct-bus-bangkok-siem-reap.html. A member of the forum who calls himself SteveJD999 has shared his experience riding the airconditioned bus from Bangkok to Siem Reap. I followed all the instructions given and found that his information is very helpful. Bangkok Post online also includes an articles on the bus between these countries. This service is actually new. The first bus launched on 22nd February 2013 from Bangkok to Phonm Penh. The plan was originally started December 29, 2012, but stopped because the Cambodian side is not ready, according to Bangkok Post.

Siem Reap More Than I Can Tell

Forty hours may not be enough to explore Siem Reap, could be too long too. It really depends on what you want to do in this place. The following pictures show what we've been doing for 40 hours minus 12 hours to sleep. Enjoy!
The first thing we do after checked in at the hotel was finding a place to eat. After searching awhile at Pub Street, we ended up at 'Cambodian Soup'. The food was excellent, and the service was good. 

Ancient Angkor in Modern Day


Angkor-Wat
[In] Pukul 5.00 pagi sesuai janji, Sophea supir tuk-tuk menjemput kami di hotel.  Seperti dapat kita baca di berbagai blogs, citra supir tuk-tuk kadang-kadang ditampilkan agak negatif. Misalnya pada salah-satu blog diceritakan oleh penulisnya bahwa, ia naik tuk-tuk dari terminal bis ke hotel dan supir tuk-tuk yang disewanya mula-mula sangat ramah, namun ketika tawarannya untuk mengantarkan ke Angkor-wat ditolak langsung berubah sikap. Itulah manusia, punya tabiat dan sikap masing-masing. Akan halnya Sophea, memang menawarkan jasanya setelah mengantarkan kami ke hotel.  Dan kami tidak melihat alasan untuk tidak memberinya kesempatan.

Angkor Pass
Ada tiga pilihan tur yang ditawarkan Sophea kepada kami. Yang pertama hanya mengunjungi Angkor-wat, biayanya 20 dolar Amerika. Pilihan kedua melihat matahari terbit di candi utama Angkor-Wat, tambahan 5 dolar dan berangkatnya pukul 5 pagi.  Rute lengkap mengunjungi 7 candi berbeda; ongkos 30 dolar. Kami memilih tur terlengkap dan melihat matahari terbit, dengan demikian membayar USD 35 untuk dua orang.

Tuk tuk kami melaju di jalan yang masih sepi. Angin subuh yang sejuk menerpa wajah dan menyebabkan kami yang belum pulih dari kelelahan, mengantuk berat. Ketika melewati beberapa hotel, kami mulai bertemu dengan tuk-tuk lain. Sophea mengebut melewati mereka dengan mudah.

Panorama  indah di atas sungguh pantas diraih dengan mengorbankan tidur.
Sebelum masuk dari pintu barat, kami turun dari tuk-tuk untuk pengambilan foto yang dicetak di atas karcis masuk yaitu Angkor Pass. Harga keseluruhannya USD 20 perorang. Berlaku untuk semua candi yang kami kunjungi dan juga untuk menggunakan toilet (kami baru mengetahui hal ini belakangan).
Tomb Raider
Setelah itu Sophea mengantar kami ke pintu masuk, dan kami harus berjalan kaki ke dalam. Karena keadaan masih gelap, kami membeli senter seharga satu dolar (banyak barang di Siem Reap ditawarkan 1 dolar). Jadi kalau Anda berencana mengunjungi Kamboja bawa USD saja. Mata uang Kamboja, KHR atau disebut Riel dan 5.000 riel kurang lebih USD 1.25. Tidak perlu repot-repot menukarkan mata uang lain ke riel, cukup USD saja. Bila sebelumnya Anda telah berkunjung ke Thailand dan memiliki banyak Thai’s Baht, perlu diketahui bahwa Baht tidak diterima secara luas.

Saya senang sebab telah bangun pagi-pagi untuk melihat matahari terbit dari latar belakang Angkor-wat.  Meskipun matahari paling tepat posisinya pada 23 Maret, namun dengan berpindah tempat, matahari dapat dipotret persis di atas puncak candi. Kunjungan ke candi-candi selanjutnya membuat kaki kami patah karena naik turun tangga. Kecuali bersedia merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa pemandu wisata, sebaiknya Anda baca buku Ancient Angkor karya Michael Freeman dan Claude Jacques. Sewa guide sekitar USD 20, buku ini hanya USD 5. Anda dapat membacanya sambil berbaringan di kamar berpedingin udara yang nyaman, tidak perlu berpanas-panas.

Tur kami selesai sekitar pukul 14.00. Dalam perjalanan pulang ke hotel, mata kami tidak hendak melek lagi saking mengantuknya. Namun kami tidak bisa membiarkan angin musim kemarau yang panas melenakan, kami tidak ingin mengalami kecelakaan terjatuh dari tuk-tuk (sebenarnya kereta yang ditarik dengan sepeda motor ini adalah kereta dokar yang dahulunya ditarik kuda).

Malam itu setelah mandi dan tidur siang, kami kembali ke restaurant ‘Cambodia Soup’ di Pub Street. Setelah itu kami sempat berbelanja oleh-oleh di night market lama.

[En] As agreed, Sophea the tuk-tuk driver picked us up at our hotel at 5 am for our Sunrise Angkor Wat tour, the beginning of a series of temples included in the itinerary. As I have read on various blogs, some writers have warmed reader not to easily accepting tuk-tuk driver offer to take them to the Angkor-wat. A blogger wrote that in the beginning her driver was nice when drove her from bus station to her hotel, but once she rejected his offer, his attitude changed.  But we didn’t see any reason why we must be cautious with Sophea who drove us from bus company to our hotel day before. He speaks a little English but well prepared with photos to show us what to see in Siem Reap.
Angkor-Wat
There were three choices of itinerary offered by Sophea. The first choice just only Angkor-wat, departure time; anytime, cost USD 20. The second choice included to see the sun rise at Angkor-wat and departure time from hotel at 5 am; cost USD 25. The third choice is to visit seven temples in sequence included Angkor-wat; cost USD 30. We have choosen the third itinerary plus to see the sunrise.  Did he outsmarted us, since we didn’t have any idea about those temples? Only himself and God know, the most important is we have enjoyed our tours. We should have read guide book by Michael Freeman and Claudia Jacques, but we didn't manage to get a copy before hand. 

Angkor Thom
Our tuk-tuk racing in the quite morning, but it’s not fast enough so one or two car passed us. When we were cruising farther, we passed other tuk-tuk with passenger mostly Westerner, some waved their hand, and I waved back.

Pre Khan
Before entering the west gate, we got off from tuk-tuk to purchase the pass for USD 20 including photograph which to be printed on the pass. We got into the tuk-tuk again and Sophea drove us as far as allowed.  We we walked to the entrace, It was 5.45 but still dark so we bought a fancy flash light at one dollar (most item in Siem Reap valued at that price).  So if you are going to visit Cambodia, will be easier to bring one to ten dollar bank notes. Don’t bother to bring KHR or riel, the local currency. Five thousand riel is about USD 1.25. If you have visited Thailand before please remember that Thai’s Baht is not widely accepted in Cambodia.
Ta Som

I’m glad have risen early to see the first light at Angkor-wat tower. The rest of temples afterward was not really of our amusement. It was hot and climbed up and down, walked from one side of the other inside the ruins drained a lot energies.
Banteay Srei


Our tour ended at about 14.00 afternoon.  On the way back to our hotel,  we were hardly able to open our eyes because we were so sleepy.  But we couldn't risked our safety, so we have to fought our desired to sleep. We were happy with Sophia’s service so we have tipped him handsomely. 

In the evening, refreshed with hot water shower and long naps, we came back to Cambodian Soup for dinner. We have managed to shopping at the old night market as well.
Monks Boarded on Tuktuk



Sepanjang Jalan Kenangan

Dengan mobil sewaan aku bersama seorang teman meluncur dari Kota Pontianak, menuju kota kecamatan Sungai Pinyuh. Kami berangkat pk. 10.15 WIB dan tiba pk. 11.30 WIB. 

Begitu meninggalkan Siantan dan memasuki Sungai Gedong, kami melihat hamparan padi yang hampir siap untuk dipanen di pesawahan . Walaupun tidak diatur seperti halnya pesawahan di Pulau Jawa dan Bali, kesuburan tanah 
memungkinkan padi bernas penuh. 
Akhirnya kami tiba di Sungai Pinyuh. Wajah kota yang malas berias dan lamban bergeliat untuk mengikuti perubahan jaman. Kendaraan beroda empat memang bertambah banyak, demikian pula sepeda motor sementara becak sangat berkurang jumlahnya. 
Sepeda ontel masih menjadi pilihan sementara orang. 
Kendaraan-kendaraan dari kota-kota Singkawang, Pemangkat, Sambas yang akan pergi ke Kota Pontianak bahkan yang akan melanjutkan perjalanan udara melalui 
Bandara Supadio melewati Sungai Pinyuh, demikian pula halnya 
kota-kota Anjungan, Ngabang dan sebagainya, maka 
Sungai Pinyuh menjadi salah-satu tempat yang 
penting di Kalimantan Barat. Rumah-rumah 
makan, toko-toko oleh-oleh 
mudah ditemukan di sini. 

Namun sejak dibukanya jalan baru Indonesia Malaysia yang melewati Sungai Ambawang tentunya mengurangi peranan Sungai Pinyuh bahkan meninggalkan daerah 
sepanjang jalan Sungai Pinyuh- Anjungan dalam keadaan mati suri. 
Buktinya dengan mudah dilihat pada photo ini, jalan yang sama yang pernah aku jejaki hampir setengah abab yang lalu, gubuk-gubuk di pinggirnya hampir seperti yang 
ada diingatanku. Semakin mendekati desa Galang, aku semakin menyadari 
perubahan; jika pun ada adalah menghilangnya pepohonan tapi tidak ada 
penambahan pembangunan baru sama-sekali. 
Seolah-olah tempat ini tidak pernah berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.  Hal ini membuatku benar-benar tidak ingin memperlihatkan warna perasaanku sebagai orang yang dilahirkan di tempat ini 50 tahun yang lampau. 
Seperti rumpun 'daun mangkok' ini akan bercerita padamu, betapa seorang gadis kecil suatu waktu memetik daun-daun yang telah cukup tua, mengumpulkannya dalam 
ikatan-ikatan yang cukup berat bagi otot-otot tangan yang belum tumbuh 
sehingga ia harus meminta bantuan pada orang dewasa lain mengangkat 
daun-daun itu ke pasar untuk dijual kepada penjual ikan hingga penjual 
makanan: "Di sini perubahan tidak menjamah ramah, 
selain perusakan selama berwindu-windu." 
Bentuk daun-daunnya dilihat dari dekat ya tidak berubah. Dan aku sempat terharu ketika beberapa bulan yang lalu menemukan sebuah rumah makan yang masih menggunakan daun ini untuk membungkus masakan. Seandainya perubahan tidak menyentuhku, barangkali aku sedang mengajari cucuku memetiknya, mengikatnya dan 
membawanya ke pasar untuk ditukarkan sekedar recehan. 
Ah...bukan salah takdir...jika terjadi demikian, bukan? 
Segalanya terjadi secara random. 
Ah, bukan salah takdir! Aku bersyukur pada Tuhan, aku terpilih secara 
random untuk meningkatkan tarap kehidupan.  
Jika kau sempat bertanya kepada anak-anak ini, mengapa mereka menantang maut dengan memanjati sebuah mobil angkutan seperti ini, kau mungkin akan 
mendengar jawaban kalau mereka ingin mengubah nasib dengan 
bersekolah, dan karena tidak tersedia sarana, 
mereka terpaksa menantang maut. 
Namun jika terjatuh, mungkin memang salah takdir? Ah, 40 sekian tahun silam, aku tidak akan seberani mereka, aku mengandalkan sepasang kakiku untuk menempuh 
7 km setiap hari demi mencerdaskan diri. 
Pendidikan memang penting. Aku bersyukur, telah menyadari hal ini sejak dini. Jaman sekarang informasi menjadi kebutuhan dasar manusia dan tersedia luas untuk diakses. Jika seseorang tidak dapat ikut memanfaatkan kemajuan jaman, maka sekali lagi,
bukan karena takdir. Petani-petani nenas sepanjang jalan Sungai Pinyuh menuju Anjungan rupanya sedang panen raya. Kami melihat paling tidak terdapat
20 lapak sederhana seperti gambar di atas. Nenas di desa ini terkenal manis,
namun mungkin karena ketidakmampuan memasarkannya langsung kepada
konsumen, para petani menunggu pengepul (boleh ke disebut tenggulak?)
yang akan membeli dari mereka dengan harga rendah dan menjualnya
dengan mendapatkan keuntungan setelah dipotong ongkos angkut
ke Kota Pontianak.
Tidak dapat menikmati kemajuan jaman berarti pula tidak
dapat menikmati hasil jerih payah. 
Kemiskinan barangkali bukan monopoli desa-desa di Sungai Pinyuh saja, Oktober tahun lalu, aku sempat berada di desa lain yang sebagian besar penduduknya berprofesi
sebagai penangkap ikan. Bagi yang memiliki modal, mereka punya kapal motor
yang dapat berlayar hingga ke laut, namun lelaki ini hanya bisa mengandalkan
sampan kecil, alat pancing sederhana. Hujan yang lumayan deras tidak boleh membuatnya menyerah, sambil berteduh di bawah caping ia terus
melepaskan benang-benang dengan kail dan umpan ke dalam
sungai. Sebagian orang kota akan salah-sangka ia sedang
menikmati sebuah hobi, tapi aku tahu
ia sedang mencari nafkah.
Hobi tentu saja tidak ada dalam daftar gaya hidup orang desa yang terlindas perubahan. 
Alangkah misteriusnya kehidupan ini. Renungku waktu itu. Setiap manusia yang hadir di dunia ini hanyalah setetes air yang akan jatuh kembali ke danau, sungai dan lautan. Menghilang. Sementara tetes-tetes lain terus mengalir turun dari atas atap,
dedaunan dan caping si pemancing ikan.
Tidak ada yang abadi, bagaikan titik-titik hujan jatuh di atas permukaan sungai waktu itu.
Semuanya pasti berlalu. 

Catatan Perjalanan Ke Kuching Malaysia I

Bagian pertama

Tulisan ini bukan tulisan wisata melainkan pengalaman melakukan perjalanan lintas perbatasan RI-Malaysia. Saya bagi menjadi tiga bagian: Menuju Tapal Batas, City of Kuching dan Hujan Batu Di Negeri Sendiri. Selamat membaca. O ya, komentar Anda akan sangat berharga bagi saya, jadi jangan pelit-pelit. Hitung-hitung latihan menulis juga kan?! Terima kasih sebelumnya. 

Menuju Tapal Batas

Bis Pontianak-Kuching saat beristirahat di rumah makan Roda Minang, Sosok, Kalbar.
Beberapa waktu yang lalu (11-12 Oktober 2012), Poedjiati dan aku melakukan perjalanan ke Kuching, Sarawak, Malaysia. Tujuan sebenarnya bukan untuk melancong atau menikmati liburan. Sebab perjalanan delapan jam dengan bis dari Pontianak tidaklah membawa nikmat sama-sekali dan Kuching tidak menyediakan apa-apa yang menarik untuk seorang pelancong. Kuching hanya sebuah kota kecil yang panas dan ‘ngebosani’.

Catatan Perjalanan Ke Kuching Malaysia II

Bagian Kedua
Tulisan ini bukan tulisan wisata melainkan pengalaman melakukan perjalanan lintas perbatasan RI-Malaysia. Saya bagi menjadi tiga bagian: Menuju Tapal Batas, City of Kuching dan Hujan Batu Di Negeri Sendiri. Selamat membaca. O ya, komentar Anda akan sangat berharga bagi saya, jadi jangan pelit-pelit. Hitung-hitung latihan menulis juga kan?! Terima kasih sebelumnya. 

City of Kuching

Astana atau Istana (tampak dari Waterfront) adalah kediaman resmi Yang Dipertua-Negeri Sarawak. Dibangun pada 1870 oleh White Rajah Charles Brooke sebagai hadiah pernikahan kepada istrinya Margaret Alice Lili de Wint. 

Setelah mendapatkan ijin masuk ke negeri jiran Malaysia, segera kami merasakan perbedaan dengan negeri sendiri tercinta Republik Indonesia. Pengalaman pertama menggunakan kamar kecil umum yang disebut tandas itu harus diakui di sisi Tebedu jauh lebih bersih dibandingkan di sisi Entikong. Perbedaan apa lagi yang membuat perbedaan kalau bukan sikap manusianya?! Barangkali orang Indonesia memandang wc umum adalah tempat jorok untuk membuang kotoran. Jadi buat apa harus bersih-bersih? Sedangkan orang Malaysia memiliki pandangan bahwa tandas adalah tempat di mana manusia menggunakannya—tak peduli apapun tujuannya—harus manusiawi. Setidaknya tersedia air bersih yang cukup, bebas dari bau sehingga orang tidak harus menutup hidung selama berada di dalamnya.
            Perbedaan sikap ini juga dengan mudah diidentifikasi pada berbagai aspek kehidupan berbeda. Misalnya rumah ‘hanya’ sebagai tempat berteduh atau rumah sebagai tempat menjalani hidup yang bermakna. Makanan sekedar untuk membuat kenyang atau makanan sebagai seni yang tidak hanya mengenyangkan dan menyehatkan melainkan juga untuk dinikmat oleh mata, hidung dan mulut. Perbedaan sikap ini akhirnya bermuara pada perilaku melakukan berbagai pekerjaan. Memeriksa setiap bis harus dilakukan tanpa pandang buluh berapa penumpang di atasnya dan apa yang dilaporkan supirnya harus dapat dibuktikan kebenarannya jika informasi tersebut memang penting. Jika tidak penting, lalu buat apa melakukannya?
            Bis kami melanjutkan perjalanan menempuh jarak Tebedu menuju kota Kuching yang memakan waktu sekitar dua jam. Hal pertama yang kuinginkan sesampainya di terminal bis Kuching yang berada satu kompleks dengan pertokoan adalah secangkir kopi susu hangat. Tanpa seringgit pun dalam dompet bukanlah masalah, kami menarik 300 ringgit Malaysia dari ATM dan segera mendatangi satu-satunya kopitiam (warung kopi) yang buka.
            Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi dari beberapa teman tentang cara dan ongkos taksi di Kuching. Seorang teman menganjurkan supaya aku meminta supir taksi mengantarku keliling kota dan ongkosnya 30 ringgit. Pagi itu kami berdua cukup beruntung mendapatkan seorang supir taksi yang baik, Tuan Lie namanya, ia seorang pria Tionghoa berumur antara 55-60 tahun. Ia menerangkan setiap tempat yang menarik sepanjang perjalanan dari terminal menuju hotel yang belum dipesan. Aku sangat bergembira ketika melewati stasiun radio Sarawak ia menunjukkannya dan pada saat yang sama radio dalam taksi juga sedang tune-in di stasiun radio tersebut. Alasanku bergembira? Beberapa dekade yang lalu, di kala berbicara Mandarin merupakan dosa dan tidak ada satu pun radio dalam negeri yang menyiarkan program bahasa Mandarin, aku sering mendengarkan radio tersebut melalui gelombang pendek atau short wave (SW).
            Supir taksi Lie membawa kami ke sebuah hotel di bagian waterfront dan kota lama. Bangunan-bangunan di sini terpelihara dengan baik. Hotel kami Furama Lodging House yang disarankan supir taksi Lie termasuk satu dari sekian banyak bangunan lama itu. Menurut supir taksi Lie ada banyak hotel atau penginapan yang dikenal dengan bed and breakfast di sekitar daerah itu, tanpa ragu ia menyarankan Furama Lodging House. Ternyata setelah proses check-in yang berlangsung sekitar 15 menit, Supir Lie masih menunggu di luar. Ia memastikan kami telah mendapatkan kamar dan tidak perlu diantar ke hotel lain. Sebuah pelayanan yang pantas dipuji.
            Rencananya kami ingin menginap dua malam, namun setelah keliling-keliling dan mencobai beberapa macam makanan yang dikatakan khas Kuching, kami memutuskan untuk meninggalkan kota ini dengan bis siang. Selain tidak ada atraksi yang menarik—bandingkan beberapa tempat terkenal di Indonesia Kuching hanya sebuah kota yang ‘ngebosani’! Mataharinya panas terik dengan kelembaban tinggi, terasa gerah—sangat-sangat tidak nyaman. Karena sangat panas itu pula, kami naik taksi ke mal terbesar di Kuching, The Spring dengan maksud cari adem. Kami menuju food court dan memesan minuman sebab kami sudah makan sebelumnya. Pendingin ruangan segera membuat kami mengantuk berat. Jadi akhirnya kami kembali ke hotel untuk bobok! Kami berembuk, daripada membelanjakan uang di negeri orang lebih baik kami belanjakan di negeri sendiri. Keputusan bulat, pulang ke Kalbar keesokan siangnya.
Malamnya kami bermaksud berjalan-jalan di sepanjang waterfront, namun bukan copet—baik supir taksi maupun resepsion hotel telah memperingati kami supaya berhati-hati dengan tas kami—yang membuat kami membatalkan rencana melainkan hujan deras. Untunglah hujan segera berhenti sehingga kami masih sempat mengambil beberapa gambar. Kami sempat pula membeli souvenir di pusat kota, tidak jauh dari hotel. Pada saat kami duduk-duduk menikmati kopi instan dicampur susu kental manis, aku mengamati empat laki-laki yang gerak-geriknya seperti copet yang digambarkan supir taksi kami. 

Tempat penjualan tiket bis dan ruang tunggu yang nyaman di Kuching Central Terminal. Selain itu di lantai atas pengunjung dapat membeli berbagai makanan dan minuman serta menukar uang di penukaran uang berhad alias resmi.
Ada juga sih orang yang aku curigai sebagai calo, tapi terbukti kemudian bukan seperti calo-calo kita,  mereka tidak menjual tiket melainkan mengarahkan saja. 
Dari atas bis secara kebetulan aku melihat Supir Lie dan rekan-rekannya sedang beristirahat. Di musim sepi supir-supir ini memunyai banyak waktu untuk berdebat kusir—debat supir—mungkin sebutan yang lebih tepat untuk encek-encek ini. 
Sudut kota lain dilihat dari arah Waterfront. Pusat bisnis, perbankan dan beberapa musium, salah satunya musium Batik. 
Pasar tradisionil yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga. Pedagangnya ada Melayu, Tionghoa maupun India. Namun mayoritas pedagang dan pembeli sepertinya adalah kaum Muslim hal ini terlihat dari adanya mesjib dan penjual kurma. 
Menikmati kopi susu hangat. Kopi instan dicampur dengan dengan susu kental manus. 
Ngeceng di depan kapal cruise yang sedang sandar karena tidak ada turis yang naik. 

Catatan Perjalanan Ke Kuching Malaysia III

Bagian Ketiga

Tulisan ini bukan tulisan wisata melainkan pengalaman melakukan perjalanan lintas perbatasan RI-Malaysia. Saya bagi menjadi tiga bagian: Menuju Tapal Batas, City of Kuching dan Hujan Batu Di Negeri Sendiri. Selamat membaca. O ya, komentar Anda akan sangat berharga bagi saya, jadi jangan pelit-pelit. Hitung-hitung latihan menulis juga kan?! Terima kasih sebelumnya. 

Hujan Batu Di Negeri Sendiri

Selamat tinggal, Malaysia! Cukup sudah aku menyaksikan hujan emas di negerimu! Pertanyaan di benakku
bagaimana mengubah hujan batu di negeriku menjadi batu-batu pertama. 
Total waktu yang kami habiskan di Kuching hanya 16 jam, boleh jadi kami telah  memecahkan rekor waktu tersingkat mengunjungi Kuching di antara orang Indonesia. Tidak seperti ketika berangkat, tiket sangat mudah didapatkan di Pontianak, di  terminal sentral Kuching kami hampir tidak mendapatkan tiket untuk bis yang berangkat pukul 11 atau pukul 10 waktu Indonesia. Kami berdua harus duduk terpisah di nomor bangku 5A dan 6A bis super executive S.J.S.  Tetapi bis yang kami tumpangi kali ini sungguh berbeda dengan bis Sri Merah dari Pontianak. Sesuai dengan motonya “Keselamatan & Kepuasan Anda adalah Tujuan Utama Kami” supirnya sangat berhati-hati. Baik supir maupun keneknya mengenakan seragam safari biru tua yang rapi.

Entrepreneurship Dalam Suatu Perayaan Keagamaan


Sabtu dan Minggu 5-6  Mei 2012 saya bersama beberapa teman mengikuti perayaan Waisak 2556 sebagai wisatawan Nusantara. Keren kan? Serangkaian foto yang saya jepret bisa bercerita banyak. Tidak itu saja, sebagai Wisnu saya juga merasakan betapa minimnya perhatian Pemda Jateng terhadap kekayaan daerahnya. Ya, saya berbicara tentang Candi Borobudur yang pernah dikunjungi seleb top seperti Richard Gere.

Bendera-bendera Negara Peserta
Begitu memasuki pelataran Candi Borobudur, sederetan bendera negara-negara peserta perayaan Waisak 2012 melambai menyambut, menunjukkan betapa Candi Borobudur, candi agama Buddha terbesar di dunia tidak terkucil. 

Dra Hartati Murdhaya Ketua
Umum Walubi memberikan kata sambutan. 

Perhelatan raksasa ini terselenggarakan tidak terlepas dari peran seorang perempuan pengusaha yang sangat sigap, Dra. Hartati Murdhaya, yang memimpin persatuan umat Buddha di Indonesia. Tidak saja bisa memimpin, rupanya perempuan ini juga tak segan-segan turun tangan jika ia mendapati adanya hal-hal yang kurang berkenan atau menurutnya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya pada saat anggota koor menyanyikan lagu mars Walubi dan terdengar tidak siap, ia langsung mengambil alih. Menurut saya ini merupakan satu contoh walk the talk tetapi di lain sisi juga memperlihatkan persiapan yang kurang matang.
Seorang Pengasong Sedang Istirahat di Warung Nasi
Kontras sekali dengan Ibu Hartati Murdhaya yang kaya raya dan berkuasa, Ibu Martiyem, seorang pedagang asongan berharap banyak dari pengunjung yang membludak hari Minggu ini. Tetapi banyaknya pengasong, dan warung membuat perjuangan Ibu Martiyem semakin berat. Beberapa jam duduk-duduk di warung nasi dekat pintu parkir I kawasan Borobudur, puluhan pengasong hilir-mudik menawarkan barang dagangan berulang-ulang. Barangkali mereka belajar dari motivator sales mana, bahwa dengan persistensi pasti berhasil. Sayangnya cara pendekatan ini justru terkesan memaksa dan dengan berat hati harus saya katakan mengganggu. Di samping itu, lokasi di sekitar serakan warung-warung itu terkesan sangat kumuh. Jalan yang berlumut atau terendam air serta sampah sungguh tidak pantas berada di tempat ini. Saya teringat Great Wall, Pisa, Eifel dan sebagainya dan menjadi sedih. Mengapa konservasi UNESCO ini, maha karya nenek moyang bangsa Indonesia tampak tak terawat?

Prosesi dari Candi Mendut Menuju Borobudur
Prosesi dari Candi Mendut menuju Borobudur dimulai pukul 13.00. Matahari yang terik di siang itu tidak mengurangi semangat peserta yang sejak pagi mengikuti acara puja dan doa di pelataran Candi Mendut. Sekali lagi terdeteksi dengan jelas tidak terorganisasinya dan berantakannya acara. Pedagang makanan dan minuman berdesakan di depan pagar Candi Mendut. Ditambah lagi pedagang burung dan ayam yang berusaha mendapatkan pembeli yang ingin berdharma melepaskan binatang-binatang tersebut dari kekuasaan manusia. Pedagang mainan, terutama balon juga sangat banyak hari itu. 

Mau Balon Itu
Anak ini misalnya tertarik untuk membeli balon dan merengek kepada aki dan neneknya. Meskipun sang nenek berusaha membujuk, pikiran mudanya tak mau menunggu, mau sekarang pokoke...maka sang aki pun menyerah dan berteriak kepada penjual balon di balik pagar, tak peduli umat Buddha yang lain sedang berdoa. Oh, pikirannya yang sederhana, yang hanya mengerti kerja keras perlu diatur dan yang mengatur juga perlu tahu bagaimana mengatur. 

Di sekitar tempat itu saya meihat sekelompok pelajar berjaket hijau dan berjilbab, mungkin mereka ditugaskan membantu demi basa-basi kerukunan beragama, tetapi tanpa koordinasi yang baik, mereka hanya berkelompok dan bercanda.

Saya mengimbau teman-teman untuk mendahului prosesi supaya berkesempatan makan siang. Saat matahari tepat membakar ubun-ubun kami "berprosesi" ke arah Borodubur. Garangnya matahari terasa menyilet kulit tangan saya yang terbuka. Untung saja saya mengenakan topi. 

Kami menemukan "Waroeng Rempah" dan beristirahat disitu sambil mengisi perut. Sayangnya nasi goreng yang saya pesan terlalu pedas untuk dimakan pada siang yang terik seperti ini. Sesaat sesudahnya saya baru membaca "tag line" warung tersebut: Warung Rempah, pedasnya nendang." Pedasnya menyengat saja sudah cukup, ini...? Nendang, mak! Untunglah jus jambu merahnya cukup menyegarkan. 

Selesai makan, tepat pukul satu siang, saya dan teman-teman bergabung dengan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan menunggu rombongan prosesi. 

Kedua pembuka jalan, entah terlatih atau tidak, tapi mereka pasti amatir.
Perhatikan pula pengendara sepeda motor berbaju biru itu yangberada di antara
pembuka jalan dan rombongan prosesi. 
Prosesi
Seperti telah saya singgung di muka, prosesi melewati jalan yang dipenuhi penonton. Pengendara sepeda motor hilir mudik, delman dan beca menghadang di sana-sini. Gambar di atas saya tangkap dengan lensa tele, dari tempat saya berdiri dan rombongan prosesi Waisak sekitar 500 M. Masih bertanya-tanya bagaimana rombongan dapat melewati kerumunan tiba-tiba semua penonton menghilang. Ternyata, rombongan berbelok ke kiri melewati jalan pintas. Saya dan sejumlah fotografer  amatir pun berlari mencari short cut. 

Dan di samping kandang ternak yang berbau, saya menemukan tempat yang memungkinkan saya mengambil gambar sebaik-baiknya. Sangat sulit memang, sebab saya tidak menggunakan lensa wide angle. 

Drum Band Mendahului Barisan Prosesi
Biksu Manca Negara
Bhineka Tungga Ika
Bhineka Tunggal Ika
Berbagai buah-buahan yang sangat penting bagi Buddhist yang Vegetarian
Mobil yang membawa api dharma; di depannya tak lupa dipasangi lambang Negara NKRI Burung Garuda Pancasila.
Api Dharma Tri Suci Waisak diambil dari sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jateng.
Api merupakan lambangpengusir situasi siram diambil oleh para biksu yang didahului upacara atau prosesi pengambilan api 5 Mei 2012. Api kemudian dibawa ke Candi Mendut dan Borobudur sebagai bagian dari ritual. 
Di belakang Api Dharma Tri Suci para Biksu yang berada di atas kendaraan berbentuk kapal ini
mencipratkan air suci ke arah masyarakat yang berdiri di pinggir jalan. 
Barisan Biksu dari berbagai aliran dan golongan, majelis. 

Masyarakat yang menonton prosesi membentuk piramida manusia.
Ekspresi wajah mereka menunjukkan adanya garis pemisah yang tidak kasat mata; antara kami dan mereka.
Pagi hingga siang yang panas tiba-tiba terhapus oleh hujan deras. Proses meneruskan perjalanan mereka.
Para Biksu berjalan sambil melantunkan doa. Pastinya hujan yang turun itu sudah diantisipasi, buktinya
para biksu dan umat Buddhist yang berprosesi itu segera mengenakan jas hujan.

****
Jadi mengikuti semua ini terbersit pertanyaan di benak saya, apa yang akan terjadi jika Pemda Jateng menerapkan entrepreneurship untuk memanfaatkan sekaligus merawat Borobudur? Selain Borobudur sebagai daya tarik bagi wisatawan manca negara, terutama negara-negara yang banyak penganut agama Buddha dan Tao, maka Klenteng Sam Poh Kong di Semarang bisa diperhitungkan. Bandar Melaka dan Singapore telah memanfaatkan daya tarik seorang Zheng-he (Sam Poh Kong) untuk wisata religi selama puluhan tahun.

Karena entrepreneurship tidak dapat dipisahkan dengan inovasi, maka seharusnya perayaan Waisak kali ini bisa mendatangkan banyak keuntungan. Jangan berpikir bahwa ini dapat dan sanggup dilakukan oleh pihak Umat Buddha selama 59 tahun, Pemda Jateng lantas berpuas diri. Pikir saya sambil terkantuk-kantuk di warung kumuh Mpok Surti dekat pintu masuk satu kawasan Borobudur.

Saya dan teman-teman menunggu waktu yang tepat untuk memasuki pelataran utama Candi Borobudur sebab menurut informasi jika kami beli tiket dan masuk, maka kami tidak bisa keluar kecuali mau membeli tiket lagi. Sambil menunggu senja turun dan acara perayaan Waisak dimulai, beberapa orang teman bergabung di warung Mpok Surti yang sudah tutup. Menurut teman-teman yang baru bergabung ini, mereka sudah mencoba mendapatkan tiket masuk, tetapi petugas memberitahu bahwa ticket box sudah tutup sejak pukul 5 sore. Bagaimana ini? Tidak terima! Pokoke harus masuk! 

Menjelang pukul 6 sore kami mencoba keberuntungan kami—masuk tanpa tiket. Bukan salah kami bila penjual tiket tidak mau melayani. Kami bersembilan berjalan ke arah salah-satu pintu keluar di bawah gerimis. Dengan penuh keyakinan kami berjalan masuk, melewati petugas yang berdiri di pos. Kami berhasil masuk. Di dalam kami tertawa-tawa. Teman saya menggerutu: “Aneh peraturannya, tadi bilang nggak boleh masuk, sekarang kita masuk dibiarin.”

“Kan tadi kita semua mengenakan invisible cloak.” Maksud saya tentu saja jas hujan yang kami kenakan.

Setelah masuk ke dalam taman Borobudur kami berusaha mencari jalan ke pusat perayaan, maklumlah, tidak ada petunjuk yang bisa ditemukan. Kami akhirnya bergabung dengan serombongan biksu dan kelompok instan pengunjung seperti kami. Saat itu sudah keadaan di sekitar kami sudah gelap gulita. Tanpa penerangan kami berjalanan mengikuti biksu-biksu itu. Terkadang sepatu saya menapak di atas jalan keras, terkadang di tanah berlumpur. Di suatu tempat, kami bahkan melewati pagar yang dijebol secelah. Akhirnya kami keluar dari kegelapan dan tiba di tempat perkemahan; ada perkemahan Majelis Mahayana. Di mana seorang Biksu yang mengingatkan kita pada Chang San Chong (Journey to the West) memberikan berkat. Teman-teman saya tidak mau melewatkan kesempatan itu, mereka masuk untuk diberkati dan dapat bakpao pula.

Seorang pendeta Majelis Mahayana sedang memberikan pemberkatan kepada umat. 

Dari tenda majelis Mahayana kami nyasar ke tenda majelis lain (lupa mengecek namanya kalau tidak salah Theravada). 

Altar di salah-satu tenda majelis

Setelah berfoto di sini, kami segera menuju pelataran utama Candi Borobudur untuk mengikuti puncak acara perayaan Tri Suci Waisak. 

Dan inilah magis yang menanti kami. Patung Buddha bersepuh emas di atas altar utama. 
Pada latar belakangnya tampak Candi Borubudur dengan stupa utamanya. 
Keindahan dan daya tariknya membuat para fotografer amatir maupun profesional
tak henti-hentinya menjepret. 

Kami semua menunggu puncak acara yaitu pelepasan lampion dan harus rela serta belajar bersabar mendengarkan pidato, doa dari berbagai majelis, sekapur sirih hingga renungan dan kemudian prosesi mengelilingi Borobudur sebanyak tiga kali. Selama 3,5 jam kami menahan dingin dan lapar. Bahkan beberapa orang mulai melakukan hal apa saja. Mengupdate FB, ngetweet, memijit teman hingga mengepang rambut. 

Mengepang rambut teman

Bagi saya ini merupakan test kesehatan. Mulai pukul 4 pagi tadi "menderita" apakah saya masih bisa bertahan seperti 10 atau 20 tahun yang lalu? Ternyata saya lulus test. Dan menjelang pukul 10, lebih dari 10.000 orang kembali bersemangat (walaupun tidak ada motivator berbayar di sana). Yang memotivasi setiap orang tentu saja menerbangkan atau melepaskan lampion kertas seharga Rp 100.000 ke angkasa. 

Super Moon atau bukan yang tadinya tertutup awal hitam perlahan-lahan menerobos keluar...bagaikan usaha menguak tabir nasib buruk. Tentu saja hujan sejak sore yang baru berhenti menurut Ketua Umum Walubi, dra. Hartati Murdhaya adalah berkah atau berkat yang asli, sebab dicurahkan Tuhan YM Kuasa dari langit.  


Bulan akhirnya muncul pada pk. 21.15.  


Entah bulan malam ini masih terhitung Super Moon atau bukan, yang pasti ia berhasil menyingkirkan gumpalan-gumpalan awan pekat dan bersinar sempurna 10 menit kemudian. Komentar teman-teman saya, kan biksu-biksunya sakti bisa mengusir awan yang menutupi bulan, hahaha.


Bulan bersinar sempurna. 





Saya mengundang teman-teman untuk hadir dalam acara peluncuran buku ke-5 saya pada:
Sabtu, 2Juni 2012; pk. 09.00-12.00 WIB
di Universitas Ciputra, Citraland, Surabaya
dan
Sabtu, 23 Juni 2012; pk. 09.00-12.00 WIB
Lantai 7 Gedung Kompas Gramedia
Jl. Palmerah Barat No. 29-37, Jakarta 
Hubungi: 0811 340686

10.000 lampion kertas dilambungkan bersama doa dan permohonan. 

Dan akhirnya saat-saat yang dinantikan tiba jua! Saya dan teman-teman langsung bersemangat, rasa lapar sejak tadi mendadak lenyap. Berpuluh-puluh pemotret, amatir mau pun profesional segera menyiapkan peralatan pemotretan, termasuk saya. 


 Siap-siap melambungkan lampion masing-masing

Lampion mulai mengembang siap melambung

Giliran lampion kami melambung membawa doa dan permohonan kami. 

 Lampion-lampion terbang menuju ke bulan, betapa indahnya. 
Semoga damai di Bumi bagi kita semua.