Analisa Pidato Kemenangan Obama

President US Barack Obama
http://www.youtube.com/watch?v=416oyZmugEc
Ketika Barack Obama berkampanye untuk kursi kepresidenan periode 2008-2012, pidato-pidatonya selalu dihiasi satu kata magis “Change”—perubahan! Dengan kata itu ia memesona rakyat Amerika waktu itu. Perubahan tidaklah menjadi agenda setiap orang, apalagi kalau diminta untuk memulainya atas inisiatif sendiri. Tapi bila kata itu diucapkan oleh seorang pemimpin, mendadak semua orang menginginkan perubahan—tentunya dari keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik. Namun pada pidato kemenangan termin kedua, kata ‘change’ tidak muncul lagi—tidak satu kata pun! Apakah selama empat tahun kepemimpinannya Obama merasa telah selesai melakukan perubahan? Masa sih? Bukankah perubahan selalu terjadi? Tapi mari kita tidak membahasnya di sini, sebab topik kita adalah apakah Obama menggunakan teknik berbicara NLP—seperti yang sering ditanyakan orang-orang kepada saya?
Bagaimana Melatih Para Pelatih? Hubungi kami:
WA: +62 812345 12 896
            Nah, pertama-tama saya ingin memaparkan dulu apa itu Neuro-Linguistic Programming® dengan registered mark dan neuro-linguistic programming huruf kecil. Yang pertama merupakan sebuah intelektual properti yang diciptakan John Grinder dan Richard Bandler kemudian dikembangkan selama 30 tahun oleh sederetan pengembang. Namun NLP bukan ilmu hebat yang bisa membuat pidato Obama memesona. Yang benar adalah Obama menggunakan pendekatan neuro-linguistic (bahasa neurologi) artinya pilihan kata-kata yang ditujukan pada pikiran subconsciousness. Pemilihan kata-kata yang tepat menyebabkan setiap orang merasa bahwa kata-kata itu ditujukan kepada dirinya secara individu.
            Hanya itu sajakah yang membuat pidato Obama hebat? Tentu tidak. Yang paling memegang peranan menurut saya adalah bahasa tubuh dan vocal variety (variasi vokal) yang dikuasainya dengan baik. Ada yang mengatakan sebenarnya Obama tidak suka menghafal transkrip pidatonya, tapi dari bahasa tubuhnya tidak kelihatan sedikit pun bahwa ia membaca dari layar komputer di lectern-nya.
Seperti yang dikemukan para ahli komunikasi dan salah-satunya Prof. Mehberain 55 persen bahasa tubuh, 38 persen suara dan sisanya hanya 7 persen kata-kata merupakan gabungan komunikasi efektif, ini juga yang yang dilakukan Obama. Beberapa frase yang sangat kuat menjadi semakin kuat ketika Obama memberikan tekanan dengan gerakan tubuh, cara ia berdiri, memiringkan tubuhnya ke kanan atau ke kiri, bersandar pada podium atau tegak  dan terutama permainan tekanan, nada, tempo suara.
Susunan pidato yang bagus selalu terdiri dari tiga bagian; pembukaan, batang tubuh dan penutup. Pada detik-detik pertama, Obama menggunakan kata-kata yang mudah dicerna untuk meraup perhatian hadirin. Berbeda sekali dengan model pidato pejabat maupun orang pada umumnya di Indonesia, memulai pidato dengan pengantar yang panjang lebar, Obama langsung memulai dengan mengucapkan ‘thank you, thank you so much’. Setelah itu ia memilih kata-kata yang merangkul dan mempersatukan bangsa Amerika. Ia menggerakkan spirit atau semangat, menghembuskan gelembung-gelembung  impian ke kepala pendengarnya, menerbangkan harapan dan kemudian ia jadikan tenaga pendorong untuk maju ke depan. Menariknya lagi kalimat pertama setelah ‘thank you so much’, Obama mengabungkan masa lampau—sejarah bangsa Amerika yang paling krusial—dengan masa sekarang dan masa depan. [Malam ini, lebih dari 200 tahun setelah bekas koloni ini memenangkan haknya untuk menentukan nasibnya sendiri, usaha-usaha untuk menyempurnakan persatuan kita bergerak maju ke depan.]
            Bagaimana tubuh dan suaranya ketika mengucapkan kalimat di atas? Ia berdiri dengan postur tegap namun sekaligus santai. Ia menggunakan jeda pada momentum yang tepat untuk menambah efek kata-katanya. Ketika ia mengucapkan kata-kata moves forward, ia menoleh ke kanan sementara tangan kirinya bergerak ke arah kiri. Dengan demikian ia meraup hadirin dengan baik. Ia tidak menggerakkan tangan kirinya lebih tinggi dari dagunya dan hadirin dapat merasakan bahwa ‘moves forward’ adalah sebuah proses yang masih harus dijalani, bukan hasil akhir. Hal ini kemudian memang dikatakannya. Ia tidak bergerak ke depan sendiri, …[Bergerak ke depannya disebabkan Anda semua.] Di ujung kalimat ia membiarkan sejenak pendengarnya bersorak dan menyerap kata-katanya.
            Selanjutnya—seperti telah disinggung di atas—ia menggerakkan dan menyatukan rakyat Amerika dengan kalimat-kalimat berikut ini: Bergerak ke depannya disebabkan anda menyatukan kembali semangat yang telah memenangkan peperangan dan depresi, semangat yang telah mengangkat (sepasang tangannya bergerak ke atas seperti sedang mengangkat sesuatu, tidak terlalu menggebu-gebu, sedikit lembut) negara ini dari keputusasaan yang dalam ke pengharapan yang tinggi, keyakinan bahwa setiap diri kita akan mengejar impian masing-masing, kita adalah sebuah keluarga Amerika dan kita bangkit atau jatuh bersama-sama sebagai satu negara dan sebagai satu-kesatuan bangsa.]
            Malam ini, (kata ini menjangkar hadirin untuk kembali memerhatikan apa yang akan dikatanya dan menjadi platform pengharapan) pada pemilihan umum ini, kau, rakyak Amerika (Obama tidak langsung mengatakan ‘the American people’ tapi ia menegaskan ‘you’ lalu jeda sehingga setiap orang dapat merasa menjadi bagian dari momentum penting ini) mengingatkan kita bahwa sementara jalan yang sedang kita tempuh sulit, sementara perjalanan kita sangat panjang, kita memungut diri kita sendiri, kita meneruskan perjuangan, dan kita tahu dalam hati kita semua bahwa United States of America yang terbaik sedang menunggu.(Perhatikan pula bagaimana Obama selalu menggunakan kalimat-kalimat pendek, dan memberi tekanan pada kata-kata yang menginspirasi).
            Bagian berikutnya Obama kembali menyatakan terima kasihnya kepada rakyat Amerika. Di sini sebenarnya ia menyelipkan semacam syair sebagai pemanis dan ia akhiri dengan mengatakan hal yang sangat penting, bahwa ia tidak ‘memusuhi’ para pemilih Romney, lawan politiknya. Seperti kemudian bisa kita simak Obama menyatakan penghargaannya pada pengabdian keluarga Romney kepada negara Amerika dan ia siap bekerja sama untuk memajukan “moves forward” negara Amerika. Di sini ia menggunakan kata mengedepankan negera untuk ketiga kalinya, dalam keseluruhan pidatonya ia mengulang frase ini sebanyak tujuh kali. (…anda membuat suara anda terdengar, dan anda membuat perbedaan.” Jika kita menganalisa kalimat ini dari sudut neuro-linguistic, maka sangat jelas ini adalah kalimat kinesthetic, kata “voice” (auditory) menjadi kehilangan tekanannya. Hal ini dapat dipahami mengingat kemenangan tipisnya, Obama harus mampu menggerakkan emosi rakyat Amerika dan mengorbitkan perasaan puas secara emosional bagi para pendukungnya.
            Obama memuji wakil presiden Joe Biden dan menyebutnya ‘America happy warrior’. Benar atau tidak Obama berpendapat Biden adalah wakil presiden terbaik yang diinginkan setiap presiden, hal itu tidak terdeteksi dari bahasa tubuh atau suara Obama ketika mengucapkannya. Bahkan ia tampil sangat meyakinkan dan itu membuat hadirin menyambut antusias. Sambutan gegap-gempita juga langsung membahana ketika Obama menggunakan kata-kata yang begitu puitis untuk memuji Michele dan kedua putrinya. Jelas ia berhasil membangun citra keluarga yang mengusung nilai luhur Amerika—keluarga yang utuh dan bahagia. Sungguh sebuah pencitraan hebat. [Dan aku tidak akan menjadi orang seperti ini sekarang tanpa perempuan yang setuju menikahiku 20 tahun silam. Biarkan aku katakan di depan umum: Michelle, aku tak pernah mencintaimu lebih lagi seperti aku mencintaimu sekarang. Aku tak pernah sebangga itu terhadapmu menyaksikan seluruh Amerika jatuh cinta padamu, juga, sebagai ibu negara. Sasha dan Malia, di depan mata kami kalian tumbuh menjadi dua wanita muda yang kuat, cerdas dan cantik, persis ibu kalian. Dan saya begitu bangganya pada kalian, sobat-sobat. Tapi aku akan berkata untuk sekarang seekor anjing mungkin sudah cukup.”  
I have never loved you more. Tentunya kalimat ini tidak bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan Google translate. Tapi boleh dicoba. Ini adalah sebuah frase seperti teman saya di Inggris kalau ditanya: How are you? Mereka akan menjawab dengan sarkastis: “Never been better.” Maksudnya “Belum pernah sebaik ini.” Mungkin lebih puitis kalimat Obama diterjemahkan sebagai: “Aku semakin mencintaimu.”
Bagian dari pidato ini memang perlu disampaikan sebagai bagian dari pencitraan dan diperuntukkan bagi telinga kaum hawa. Obama tentunya sadar reaksi dingin hadirin pria. Jika Anda menyaksikan tayangannya di video ataupun di youtube, akan tampak jelas hal ini. Jadi dalam suatu pidato jenis kelamin hadirin juga menjadi faktor penting. Setelah diam sejenak dan membiarkan para wanita menikmati pertunjukannya, Obama melanjutkan pidatonya dan kali ini ditujukan kepada tim kampanye, sukarelawan dan para kaum pria segera berdiri dan melambai-lambaikan bendera kecil mereka.
Kata-kata yang ditujukan kepada tim kampanye dan sukarelawan bukan sekedar ucapan terima kasih. Tapi reward—hadiah yang dapat dinikmati tidak saja oleh kuping melainkan juga oleh hati. Perhatikan di sini pilihan kata-katanya yang saya beri warna: To the best campaign team and volunteers in the history of politics. The best. The best ever. Some of you were new this time around, and some of you have been at my side since the very beginning. But all of you are family. No matter what you do or where you go from here, you will carry the memory of the history we made together and you will have the lifelong appreciation of a grateful president. Thank you for believing all the way, through every hill, through every valley. You lifted me up the whole way and I will always be grateful for everything that you’ve done and all the incredible work that you put in.
Obama—ataupun orang yang ditugaskan menulis pidato ini—sangat teliti memilih kata-kata yang memiliki efek psychologyneurolinguistic yang meninggalkan jejak mendalam. Pertama ia mempersonafikasi setiap anggota tim dan sukarelawan dengan menyebut mereka sebagai tim dan sukarelawan terbaik. Lalu ia menambahkan tekanan dengan pengulangan, yang terbaik, Terbaik yang pernah ada. Setelah itu ia mempersatukan mereka dalam suatu ikatan abadi: Tapi kalian semua adalah satu keluarga. Kemana pun kalian pergi dan apapun yang kalian lakukan, kalian akan membawa kenangan dari sejarah yang telah kita buat bersama ini dan kalian akan dihargai sepanjang umur oleh seorang presiden yang tahu berterima kasih. Pada kalimat terakhir Obama menegaskan betapa pentingnya pekerjaan tim kampanye dan sukarelawan: Anda mengusung saya sepanjang perjalanan mendaki bukit dan menuruni lembah. Semua yang Anda kerjakan itu luar biasa.
Selanjutnya Obama berbicara panjang lebar tentang alasan di balik percaturan politik. Barangkali sedikit pembelaan diri berhubung kampanye kali ini menghabiskan uang terbanyak sepanjang sejarah Amerika. Tapi apa yang dikatakannya tidak akan mendapatkan perhatian seandainya Obama bukan seorang pembicara publik kampiun. Apa yang dikatakannya merupakan klise seandainya vocal variety-nya tidak hebat. Namun ia memberi tekanan suara pada kata-kata yang mewakili harapan, misalnya …same opportunity (kesempatan yang sama). Ia mengatakan seperti memberi pengakuan akan small things that matter (hal-hal kecil yang berarti penting). Obama juga dengan telaten membangun akselerasi dari kata-katanya, menghubungkan hal-hal kecil yang dilakukan tapi membawa dampak besar secara bersama. Politik boleh jadi dianggap kontes ego, tapi Obama mampu menghubung-hubungkan setiap tindakan kampanye politik menjadi tujuan akhir sebuah bangsa adi daya. Sebuah simpul: That’s why we do this. That’s what politics can be. That’s why elections matter. It’s not small, it’s big. It’s important.
            Obama terus berbicara tentang demokrasi. Tentang orang-orang di belahan dunia lain yang berjuang dengan mempertaruhkan nyawa hanya supaya suara mereka didengar, hanya supaya bisa mencoblos dalam pemilihan kepemimpinan politik yang demokrasi. Semuanya itu klise, tapi sekali lagi dengan kalimat pendek-pendek dan jelas, Obama menghipnotis hadirinnya. Dalam negeri ia mengajak rakyat Amerika bergerak ke depan. Berulang-ulang ia menggunakan kata …forward. Ia tidak mengklaim dirinya sendiri superman atau Pemerintah harus berjuang sendiri, Obama mengingatkan: America’s never been about what can be done for us. It’s about what can be done by us together through the hard and frustrating, but necessary work of self-government. That’s the principle we were founded on.
            Ia menaruh klimaks dari pembicaraannya tentang pentingnya kampanye, pemilihan umum, dan demokrasi. Bahwa dengan memilihnya untuk termin pemerintahan kedua membuatnya lebih siap. Namun sekali lagi ia tidak menggunakan kata-kata yang tawar, ia menghubungkannya dengan kisah-kisah dan perjuangan anda… And with your stories and your struggles, I return to the White House more determined and more inspired than ever about the work there is to do and the future that lies ahead. Para pengamat politik dan komentator tentu saja sangat menyukai alinia di atas. Namun bayangkan apa efeknya jika kalimat-kalimat tersebut diubah: And with your vote and support, I return to the White house more prepared and determined and we are ready to work hard to make this country moves forward. Hambar bukan?
            Tampaknya Obama memilih gaya berbicara yang berapi-api, namun ia selalu kembali ke level yang lebih tenang bahkan diam sesaat di setiap akhir alinia. Ia tidak sekedar terdengar berapi-api, tapi ia menyulut kata-kata di akhir alinia sedemikian sehingga hadirinnya merasa terbakar. Setiap katanya seperti ombak yang menghantam cadas berturut-turut dan konstan. Perhatikan ketika ia mengucapkan kata-kata berikut ini dengan kata sambung “or”: It doesn’t matter whether you’re black or white or Hispanic or Asian or Native American or young or old or rich or poor, able, disabled, gay or straight, you can make it here in America if you’re willing to try. Suaranya mencerminkan bahwa setiap golongan yang disebutnya sama pentingnya.
Pola seperti mengalir, terpecah-pecah, berpencaran, puitis, diam yang digunakan Obama mengingatkan saya pada 5Rhythims® dari Gabrille Roth. Pada tahap puitis ia bahkan menyelibkan story telling yang menyentuh perasaan, misalnya ketika ia bercerita tentang seorang anak perempuan yang menderita leukimia. Ia menambahkan efek, setiap orangtua di ruangan itu meneteskan air mata. Nah, siapa yang tidak suka mendengarkan orang bercerita? Apalagi Obama meraih si anak perempuan berumur delapan tahun itu ke hadapan hadirin: “…aku bertemu langsung dengan anak luar biasa itu …” dan “itu bisa saja terjadi pada anak kita sendiri…”
            Mari kita bahas sekarang penutup atau closing speech-nya. Obama mengakhiri pidatonya dengan klimaks yang membahana. Nadanya semakin tinggi, volume suaranya semakin keras dan ia menikmati itu. [Aku yakin kita bisa meraih masa depan bersama-sama sebab kita tidak terpecah-pecah seperti yang disarankan politik kita. Kita tidak sesinis seperti yang diyakini para ahli politik. Kita lebih besar dari kumpulan ambisi pribadi kita, dan kita lebih dari kolektif negara-negara bagian merah dan negara-negara bagian biru. Kita adalah dan selamanya akan menjadi United States of America ini. Dan bersama dengan bantuan Anda dan karunia Tuhan, kita akan meneruskan perjalanan kita menuju ke depan dan mengingatkan dunia bahwa kita hidup di negara paling hebat di seluruh permukaan Bumi. Terima kasih, Amerika. Tuhan memberkati Anda semua. Tuhan memberkati negara-negara bagian bersatu ini.]

Comments

  1. Thanks bu Erni, saya memang terbakar oleh pidato hebatnya Obama tetapi lebih terbakar lagi oleh kejelian bu Erni menyingkap dengan cerdas implikasi "psiko-neurosis" dari setiap diksi yang mengandung roh penyulut itu. Thanks dan salam sukses!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Pak Semuel atas komentarnya.
      Saya merasa yakin bahwa menulis artikel ini bermanfaat untuk membagikan teknik, terutama penulisan pidato Obama.
      Di pertemuan Toastmaster saya dan teman-teman sering berdiskusi teknik vocal variety-nya. Walaupun begitu saya merasa pidato jenis ini hanya cocok untuk jenis pidato motivasi dan orasi. Agak sulit juga kalau diterapkan di bisnis. Namun dari sisi penulisannya bisa diterapkan di bidang apa saja.

      Terima kasih sekali lagi untuk komentarnya.
      Salam berdaya sukses mulia

      Delete
  2. sangat detail dan jernih...boleh saya share ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan deh...tapi boleh tahu nggak, Anda siapa?

      Delete

Post a Comment